PS mungkin juga sadar, bahwa ia terpilih sebagai Presiden R.I ke 8, juga berkat dukungan dari Presiden Jokowi yang telah terlebih dahulu mengacak-acak Mahkamah Konstitusi (MK) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Maka tidak heran, dalam pidatonya PS juga mengatakan telah didukung oleh Jokowi, SBY, Gus Dur, Soeharto dan Bung Karno tanpa menyebut sama sekali nama Bu Megawati Soekarnoputri.
Bahkan PS sempat menyindir Bung Karno milik semua orang dan tidak bisa diklaim sebagai milik satu partai tertentu.
Inilah karakter asli PS yang lupa dengan jasa Ibu Megawati Soekarnoputri, yang memintanya pulang kembali ke Tanah air setelah PS diincar oleh rakyat Indonesia atas peristiwa Penculikan Aktivis ’98 dan Kerusuhan Nasional tahun 1998.
Bu Megawati Soekarnoputrilah yang telah mengangkat kembali kehormatan PS sebagai pecatan TNI, dengan menjadikannya Cawapres di Pilpres 2009.
Kalau tidak karena jasa Ibu Megawati ini, PS mungkin masih akan terus menjadi warga negara yang tidak jelas identitasnya di Yordania.
Namun PS rupanya seolah lupa dengan itu semua, dan lebih mengingat jasa Jokowi yang telah melahirkan anak haram konstitusi, dan memberikan jalan yang mulus bagi PS untuk menjadi Presiden R.I ke 8.
Saya khawatir apa yang dikatakan PS dalam pidatonya, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, akan menjadi kenyataan.
Bahwa Jokowi yang memulai mengobrak-abrik konstitusi dan lembaga-lembaga negara akan diikuti kemudian oleh PS juga.
Bukankah PS selama ini telah terang-terangan, bahwa PS banyak belajar dari Jokowi?.
Namun karakter tetaplah karakter, jika dari mudanya saja sudah temperamental, selamanya akan tetap begitu juga.
Begitu pula dengan politik, jika seorang politisi tidak terlatih hidup dari kecil dengan semangat pengabdian pada negara, melainkan semangat mencari penghidupan dari kekuasaan, maka selamanya sampai tua akan begitu juga.
Dan ketika kekuasaan menjadi satu-satunya tujuan, maka seorang penguasa akan terusik ketika ada penguasa bayangan disampingnya.
Inilah mengapa saya haqul yakin hingga hari ini, bahwa kerjasama PS dan Jokowi itu tidak akan bertahan lama, ketika Jokowi nantinya tak lagi menjadi Presiden, PS akan membuangnya.
Terlebih ketika kedua-duanya sepertinya memiliki karakter yang sama, yakni mudah melupakan jasa orang-orang yang pernah membesarkannya, dan membuat keduanya menjadi terhormat di mata masyarakatnya.
Tak terasa putung rokok di asbakku penuh dan kopi di gelasku tinggal ampasnya.
Aku kemudian termenung mengingat teman-teman seperjuangan yang masih tak ku ketahui dimana keberadaan jasadnya, setelah peristiwa Penculikan Aktivis menjelang Reformasi ’98 yang sangat mengerikan itu.
Dan sekarang saya seolah dipaksa oleh suatu peristiwa, bahwa saya harus menerima kenyataan bangsa dan negeri ini akan segera dipimpin oleh orang yang dahulu menculiknya.
Semoga Allah SWT menjaga dan melindungi bangsa ini. Aamiin.
Penulis adalah Lawyer dan Analis Politik, serta mantan Aktivis ’98 di Jakarta














