Nadia menekankan perlunya ekonomi restoratif yang memulihkan dan meregenerasi lingkungan dan memperkuat keadilan sosial, bukan hanya fokus pada target pertumbuhan ekonomi 8% yang justru bisa mengorbankan hutan dan biodiversitas.
Ia menyoroti bahwa, sebelum giliran Prabowo pidato, Presiden Brazil Lula de Silva sempat meminta negara-negara maju agar mendanai krisis iklim.
Brazil sedang mendorong skema keuangan agar negara maju membayar negara berkembang untuk menjaga kelestarian hutannya melalui Tropical Forest Forever Facility (TFFF).
Namun berbeda dengan Lula, Prabowo tidak menyebut hal-hal tersebut.
“Reforestasi penting, tapi lebih penting lagi mencegah deforestasi ke depan. Kalau tidak hati-hati, ambisi ketahanan pangan dan energi bisa mengancam sisa hutan yang masih ada,” kata Nadia.
Untuk mengatasi krisis iklim, solusi nyata adalah pensiun dini PLTU batu bara dan keluar dari ketergantungan bahan bakar fosil. “Kita harus membatasi 18 juta hektar lahan untuk perkebunan sawit. Ketahanan pangan dari singkong dan jagung tidak boleh mengancam keberadaan hutan,” kata Nadia.
Ambisi Energi Terbarukan dan HAM Tak Konsisten
Saffanah Azzahra, peneliti dari ICEL, mengingatkan bahwa target bauran energi terbarukan Indonesia justru mundur.














