Perusahaan swasta besar dan BUMN yang memiliki industri pengolahan lanjutan dari CPO, baik untuk bahan bakar minyak Biodiesel maupun minyak goreng dalam jangka pendek akan mampu bertahan, walau menderita kerugian.
Mereka akan menggunakan hasil kebonnya untuk memenuhi bahan baku industri lanjutannya. Sementara petani kelapa sawit tidak punya pilihan lain.
Ibarat buah simalakama, kalau dipanen maka bukan hanya harganya akan terjun bebas, tetapi siapa yang mau membeli dan kalau tidak dipanen maka kebonnya akan rusak.
Lebaran kali ini bukan lebaran terindah seperti yang sebelumnya dibayangkan oleh jutaan petani kelapa sawit.
Jika kebijakan ini berkepanjangan, maka tangisan jutaan petani sawit akan diikuti oleh tangisan para pengusaha.
Diperkirakan dalam tempo enam bulan saja pengusaha besar dan BUMN sawit juga akan ikutan runtuh.
Sementara di negeri seberang, pengusaha dan para petaninya akan bersorak gembira karena harga sawit internasional di pasar komoditas Rotterdam akan melonjak tidak berkira.
Saat ini kontribusi ekspor CPO Indonesia memiliki pangsa pasar mendekati 58% dari ekspor dunia. Kehilangan pasok sebesar ini tentu mengguncang pasar dunia.
Kita masih ingat, kenaikan harga CPO dunia dalam setahun terakhir sebenarnya banyak dipicu oleh kebijakan pemerintah mengubah biodiesel dari B20 ke B30, yang membutuhkan sekitar 10 juta ton CPO sebagai bahan baku.













