Kesulitan lain juga disebabkan karena Indonesia termasuk soft nation – bangsa lemah yang sangat labil atas serangan budaya baru.
Ciri soft nation ini adalah senantiasa bicara soal kebesaran nenek moyang namun tidak pernah memelihara budaya atau nilai-nilai luhur yang ditinggalkan.
“Ini berbeda sekali dengan bangsa yang tergolong hard nation – seperti China, Jepang dan Korea – yang tanpa harus berbicara soal nenek moyang namun senantiasa menjaga dan memelihara warisan nilai-nilai yang ditinggalkan. Kita bisa mengamati dari hal yang sepele yakni soal penggunaan supit pada waktu makan. Kebiasaan menggunakan supit sudah ada sejak jaman dulu dan hingga sekarang supit senantiasa dipakai bahkan mendunia. Bagaimana dengan Indonesia ?,” jelasnya.
Bangsa Indonesia bagaimanapun juga, tegasnya, harus mengakui sejarah kelam demokrasi semenjak reformasi 1998, yang memicu politik uang dan yang telah mengakibatkan kehancuran bangsa akibat menempatkan uang di atas segala-galanya, kehormatan rakyat bisa dibeli, pembodohan rakyat melalui akrobatik para politikus / para pemimpin bangsa dan diabaikanya Pancasila sebagai way of life atau filosofi bangsa Indonesia serta juga UUD 1945.
Pileg yang baru saja berlalu pun sudah menjelaskan kehancuran demokrasi Indonesia di masa mendatang.
Oleh karena itu, dalam tata barunya, Indonesia harus menjadi hard nation yang mengembalikan Wawasan Nusantara sebagai cara pandang bangsa terhadap tanah air Indonesia yang seutuhnya agar tidak terpecah-pecah atau terbagi-bagi.
Namun itu semua tergantung dari pemimpin bangsa yang akan datang.













