JAKARTA- Konsultan Komunikasi Politik, AM Putut Prabantoro meminta agar para pendukung kedua Capres tidak perlu mempertentangkan antara aura militer versus aura sipil dalam berkampanye mengingat di kedua belah pihak didukung para purnawirawan, yang setelah pilpres tetap akan menjadi satu korsa.
Meski demikian, strategi militer para purnawirawan ini akan dijadikan masukan kedua tim pemenangan pilpres dan akan diimplementasikan dengan kekuatan non militer (sipil).
Istilahnya adalah “Sun Tzu Dengan Rasa Sipil”.
Demikian diungkapkan Konsultan Komunikasi Politik, AM Putut Prabantoro, Jakarta, Rabu (28/5).
Dijelaskan, dalam strategi perang China, Sun Tzu, ada dua hal yang tidak boleh dilupakan yakni selalu ada dua kutub yang masing-masing saling berlawanan, namun pada intinya kedua kutub itu akan menjadi kekuatan ataupun kelemahan bagi masing-masing pihak.
Kekuatan dan kelemahan akan saling bertukar tempat pada saatnya.
Kejelian serta kewaspadaan berdasarkan informasi dalam akan menjadi kekuatan tetap menjadi poin penting yang harus dilihat oleh masing-masing pihak.
“Perang ini hanya berusia 40 hari dan setelah itu semua kembali normal. Yang tadinya seakan bermusuhan, bersebrangan akan kembali pada situasi semula. Namun dalam perang 40 hari ini, kita bisa melihat betapa seluruh kekuatan dikerahkan, seakan-akan inilah perang yang sesungguhnya terjadi di Indonesia, antara si baik dan si jahat atau antara angel and demon. Yang dulu lawan tiba-tiba menjadi kawan yang sangat akrab atau sebaliknya dan bahkan ini terjadi untuk urusan ideologi,” ujar Putut Prabantoro, yang juga Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) – dari wartawan, oleh wartawan dan untuk Indonesia.













