Karena itu kata dia, diperlukan Islam yang moderat, damai, dan melawan radikalisme dengan hadirnya Cak Imin, untuk melanjutkan perjuangan Gus Dur akan Islam yang damai, tolerans, dan komitmen terhadap PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD NRI 1945).
“Jadi, kalau sebagai Cawapresnya Jokowi di 2019 itu memang dibutuhkan,” pungkasnya.
Sementara Jansen membeberkan data elektabilitas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terus meningkat.
“Kalau pada Maret 2017 mencapai 0,4 %, per Oktober ini tembus 14,3 %. Elektabilitas ini melampaui Cak Imin (1,1%), Gatot Nurmatyo, Anies Baswedan dan lain-lain itu lembaga survei Pollmark,” ujarnya.
Dengan demikian kata Jansen, elektabilitas Jokowi akan tergantung kepada Cawapres yang akan dipilih. “Kalau yang dipilih AHY, maka elektabilitas Jokowi akan makin naik,” ungkapnya.
Sementara itu Sirojuddin juga mengakui elektabilitas Jokowi terus meningkat dan dipastikan Jokowi maju lagi untuk Pilpres 2019.
Tapi, tidak demikian halnya dengan Prabowo, yang sudah mengikuti Pilpres empat kali, dan selalu kalah.
“Maka pertanyaannya; apakah Prabowo mau maju lagi atau tidak? Atau cukup sebagai king makers?” tanya alumni UIN Syahid, Ciputat itu.
Sebab kata Sirojuddin, elektabilitas Jokowi saat ini jauh lebih baik dibanding saat SBY menjelang 2 tahun Pilpres 2007.














