“Tapi, kita lihat pada Juni, Juli, dan Agustus 2018 nanti. Kalau elektabilitas Jokowi bertahan di 50 %, maka Jokowi akan leluasa memilih Cawapres,” jelasnya.
Dengan begitu, maka Jokowi tak akan tergantung kepada Cawapres yang disodorkan oleh parpol.
Sama halnya dengan SBY, sehingga dia memilih Boediono yang sama-sama dari Jawa Timur, dan terbukti menang lagi.
Menurut Sirojuddin, ada 3 kemungkinan; pertama: sejauhmana isu yang verkembang menjelang Pilpres 2019, inilah kata dia, yang akan menentukan siapa Cawapres yang tepat.
“Kalau isunya ancamannya keamanan dari dalam dan luar negeri, maka Cawapresnya sangat mungkin dari militer,” ungkapnya.
Kedua, kalau isunya keprihatinan ekonomi, maka Cawapresnya diumungkinkan dari ekonom, dan ketiga, bisa jadi rentetan isu Pilkada DKI Jakarta, isu SARA itu berlanjut, sehingga Cawapres yang diumungkinkan dari kalangan Islam moderat.
“Jadi, tergantung pada isu yang berkembang menjelang Pilpres 2019,” katanya.
Untuk survei Indikator Politik, Cawapres yang muncul justru yang tertinggi Ahok, Gatot Nurmantyo, Sri Mulyani, dan lain-lain.
Karena itu, menurut Sirojuddin, parpol penting membaca keinginan masyarakat. Dimana pemilih di pilpres 2019 itu adalah 55 % berusia 17 – 38 tahun, dan yang melek internet sebesar 45%. “Bisa muncul Cawapres dari kalangan muda,” pungkasnya. ***














