“Sistem tata kelola aset ini memberikan informasi secara komprehensif kondisi aset yang membutuhkan pemeliharaan, kebutuhan SDM yang melaksanakan pemeliharaan, lamanya waktu pemeliharaan dan besarnya biaya pemeliharaan terhadap suatu aset. Sistem informasi tata kelola aset ini akan sangat membantu PLN dalam meningkatkan kinerja aset perusahaan dan mendukung program PLN bersih karena proses bisnis pemeliharaan dilakukan by system,” jelasnya.
Sebagai perusahaan dengan jumlah aset terbesar mencapai Rp 613 triliun, penerapan EAM di PLN menjadi sangat strategis.
Dengan demikian perusahaan bisa memaksimalkan pengelolaan dan penggunaan aset untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Tentang aset transmisi PLN, pada akhir tahun 2013 total panjang jaringan transmisi PLN mencapai 39.395 kilo meter sirkit (kms) mulai jaringan 70 kilo Volt (KV) sampai jaringan 500 kV.
Jumlah trafo gardu induk sebanyak 1.381 unit dengan kapasitas terpasang sebesar 81.345 Mega Volt Ampere (MVA).
“Jumlah aset yang sangat besar ini perlu dikelola secara profesional untuk mendapatkan manfaat yang optimal,” imbuhnya.
EAM di pembangkitan sudah mulai diterapkan di anak perusahaan pembangkitan PLN yaitu Pembangkitan Jawa Bali (PJB) dan Indonesia Power (IP) sejak 2004 dan terus dikembangkan di unit-unit pembangkitan PLN.












