Forum diskusi bertema ‘Safeguarding and Reviving the Shared Maritime Cultural Heritage of Southeast Asia’ ini digelar UNESCO dan ASEAN, berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi.
Kegiatan ini diadakan mulai Selasa hingga Jumat (5-8 November 2019), di Jakarta dan Belitung, Propinsi Bangka-Belitung. Khusus di Jakarta, acara digelar di Museum Maritim Indonesia, yang dikelola PT PMLI.
Sejumlah pakar sejarah dan budaya dari sejumlah negara Asia hadir sebagai pembicara, antara lain Singgih Tri Sulistio, Tim Winters, Tep Sokha, Nia Hasanah Ridwan, perwakilan Unesco di Indonesia, Moe Chiba, serta Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilman Farid.
“Perlu ada upaya serius untuk menjaga dan melindungi kekayaan bawah laut seperti artefak atau benda-benda kuno yang bisa mengungkapkan sejarah dan peradaban maritim dunia. Jika tidak dilindungi, benda-benda tersebut rentan rusak atau tersimpan di tangan yang salah, mengingat nilai komersialnya juga sangat tinggi,” lanjut Amri.
Hadir pada kesempatan tersebut, Direktur Operasi IPC, Prasetyadi, mengatakan perairan Nusantara sudah lama menjadi jalur pertukaran peradaban lintas negara dan lintas benua. Sebagai jalur sibuk pelayaran, IPC meyakini bahwa lingkungan bawah laut Nusantara menyimpan banyak artefak yang tak ternilai, yang bisa digali untuk penelitian ilmiah, sejarah dan budaya.













