Menurut Perry, potensi kenaikan inflasi ke depan akan dipengaruhi oleh risiko kenaikan harga BBM bersubsidi. “Meskipun kita happy dengan inflasi yang terkendali, tetapi kami juga melihat kemungkinan adanya risiko-risiko yang bisa membawa tekanan inflasi ke depan,” katanya.
Resiko lainnya, ujar Perry, terkait defisit neraca transaksi berjalan yang pada Kuartal III-2014 diperkirakan sebesar US$8 miliar. “Triwulan keempat akan turun kembali, tetapi secara keseluruhan di 2014 diperkirakan US$27 miliar atau 3,2 persen. Ini harus diuayakan agar tahun depan bisa di bawah 3 persen dari PDB,” ucap Perry.












