JAKARTA-Pesta demokrasi lima tahunan rakyat Indonesia pada 9 April 2014 lalu sangat amburadul alias tak berjalan sebagaimana mestinya. Pasalnya, praktik kecurangan dan politik uang sangat dominan pada pemilihan legislatif lalu. Dengan demikian, bisa dipastikan, kualitas wakil rakyat periode 2014-2019 yang dihasilkan tidak lebih baik dari lima tahun sebelumnya.
Penilaian ini disampaikan oleh senator, kaum akademisi hingga pakar politik pada Talk Show DPD RI Perspektif Indonesia bertajuk “9 April 2014: Pemilu atau Pemilu (Pembuat Pilu?)” di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (2/5).
Hadir sebagai pembicara Senator dan calon anggota DPD RI periode 2014-2019 asal Papua, Yohanes Sumino, Dosen Program Pasca Sarjana Ilmu Politk UI dan FISIP Universitas Muhamadiayah Jakarta, dan Guru Rumah Perkaderan Monash Institut, Semarang Mohammad Nasih dan Direktur Riset MAARIF Institut for Culture and Humanity, dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Ahmad Fuad Fanani.
Menurut Direktur Riset MAARIF Institut for Culture and Humanity, Ahmad Fuad Fanani, Pemilu 9 April lalu menjadi pemilu yang paling bermasalah pasca reformasi. Sebab, banyak pelanggaran pemilu terjadi.
Selain itu, pemilu kali ini juga diwarnai maraknya serangan fajar atau politik transaksional hingga kanibalisasi antar caleg dalam satu partai. “Persoalan politik uang dalam pemilu kemarin memang sangat memprihatinkan. Jika kita perhatikan secara seksama ternyata yang menjadi pemenang pemilu sejatinya adalah golput, bukan PDI Perjuangan,” ujarnya.













