Tak hanya itu, kenaikan partai Islam pada Pileg 2014, menurut Fanani, juga merupakan dinamika politik yang tak hanya berdampak secara internal partai Islam, tapi juga secara eksternal. “Secara internal, partai Islam akan semakin percaya diri menetukan perpolitikan di Indonesia. Partai Islam ternyata tetap memilki tempat di masyarakat dan sangat relevan dengan sistem politik di Indonesia,” katanya.
Senada dengan Fanani, Senator asal Papua, Paulus Yohanes mengaku politik uang merusak kualitas demokrasi di Indonesia. Berdasarkan pengalamannya pelaksanaan Pemilu 2014 membuat proses demokrasi tak berjalan maksimal alias amburadul. “Menurut pengalaman saya pemilu kemarin adalah pemilu yang sangat buruk. Karena banyak terjadi money polytic sehingga proses demokrasi tidak berjalan semestinya,” jelasnya.
Kendati demikian, terkait adanya eskalasi poltik yang menyebutkan adanya partai Islam dan partai nasional, dirinya menegaskan seharusnya tak ada pengkotak-kotakan antara kedua partai tersebut. “Sekarang tidak ada partai Islam dan partai nasional. Jangan dicar-cari alasan untuk itu,” ujar Paulus, menanggapi kemenangan PKS di Papua yang mayoritas penduduknya beragama Katholik.
Sementara itu, pengajar Program Pasca Sarjana Ilmu Politik UI, Mohammad Nasih menilai, pelanggaran pemilu melibatkan seluruh elemen yang berkepentingan dalam pemilu, baik parpol, caleg, penyelenggara pemilu maupun masyarakat pemilih. “Mayoritas caleg menjadi kelompok Golput baru dengan arti baru yaitu golongan penerima-penerima uang tunai,” pungkasnya. (OCTA HAMDI)













