Kepercayaan publik justru harus dijadikan landasan untuk memperkuat kinerja dan memperbaiki titik-titik lemah yang masih dirasakan masyarakat.
“Tentunya kehadiran personel Polri di tengah masyarakat dirasakan membawa dampak positif. Ini tolong menjadi catatan bagi kita untuk terus ditingkatkan, terutama dalam menekan kriminalitas, menciptakan rasa aman, serta menjaga ketertiban dan stabilitas sosial,” tegasnya.
Sejalan dengan refleksi tersebut, Asisten Utama Bidang Operasi Polri Komjen Pol. Fadil Imran menyoroti evaluasi mendasar dalam penanganan aksi demonstrasi.
Ia menekankan pentingnya meninggalkan pendekatan represif yang selama ini kerap memicu resistensi publik, dan menggantinya dengan paradigma pengamanan yang lebih dialogis dan manusiawi.
“Sekarang kami mengenal tiga paradigma. Pertama, Crowd Control yang represif, ini memicu resistensi. Kedua, Crowd Management, polisi sebagai fasilitator. Ketiga yang ingin kita capai, Mutual Respect,” jelas Fadil.
Dalam paradigma Mutual Respect, polisi diposisikan sebagai mitra masyarakat yang berorientasi pada penyelesaian masalah, bukan sekadar pengendalian massa.
Menurut Fadil, keberhasilan pengamanan aksi tidak lagi diukur dari jumlah pasukan yang dikerahkan, melainkan dari kualitas interaksi antara aparat dan warga.














