Dari temuan ini, bisa disimpulkan bahwa undecided voters mulai menurun saat sudah diberikan pilihan nama dan suara pemilih yang ada di kategori undecided voters masih bisa digunakan untuk mendongkrak elektabilitas dari setiap k calon Gubernur/ Wakil Gubernur.
Setelah memilih 1 dari 3 nama pasangan calon kandidat, masyarakat ditanyakan mengenai kemantapan pilihan mereka.
Hasil survei menunjukkan bahwa 52.3% merasa sudah mantap dengan pilihannya, kemudian 34.7% merasa masih mungkin berubah, dan 13% cenderung tidak tahu dan memilih untuk tidak menjawab.
Dia menjelaskan, untuk elektabilitas head to head, elektabilitas Ahok-Djarot lebih tinggi saat berhadapan dengan Agus-Sylvi dibanding saat berlawanan dengan Anies-Sandi.
Apabila head to head dengan Agus-Sylvi (31.8%), elektabilitas Ahok-Djarot yaitu sebesar 48.5%.
Namun apabila head to head dengan Anies-Sandi (36.2%), maka elektabilitas Ahok-Djarot sebesar 46.8%.
Temuan menarik yaitu saat Anies-Sandi berlawanan dengan Agus-Sylvi, pemilih kategori undecided voters malah bertambah banyak.
Ini artinya sekitar 14.75% undecided voters beririsan dengan pasangan calon Ahok -Djarot.
“3 kriteria utama dari masyarakat DKI Jakarta dalam memilih Gubernur dan Wakil Gubernur diantaranya bersih dari korupsi (30.2%), tegas (30%), dan merakyat (21.8%),” ujarnya.











