Satu minggu lalu pada 27 Desember 2017, Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Selasa pagi bergerak melemah sebesar 22 poin menjadi Rp13.452, dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.430 per dolar AS. “Tekanan pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih terjadi, inflasi dan defisit menjadi fokus pelaku pasar,” kata ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Selasa.
Rangga menambahkan walaupun inflasi cukup terjaga di level rendah pada tahun ini, namun pada 2017 mendatang trennya cenderung naik. Selain itu, defisit fiskal yang berpotensi lebih lebar dari perkiraan pemerintah pada 2016 ini menyusul pendapatan amnesti pajak periode kedua yang masih minim turut mempengaruhi laju mata uang domestik.
Kendati demikian, lanjut dia, daya tarik imbal hasil yang cukup tinggi dari surat utang negara (SUN) serta ekspektasi membaiknya pertumbuhan ekonomi akibat kenaikan harga komoditas bisa mengembalikan sentimen positif terhadap rupiah di jangka menengah. “Harga minyak masih cenderung menguat memanfaatkan momentum pemangkasan produksi anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC),” katanya.












