Untuk itu, Nus menegaskan perhelatan BIAF perlu terus didorong demi meningkatkan daya saing hasil karya animasi anak bangsa di level lokal dan internasional sehingga dapat memajukan perekonomian nasional, sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan ekspor Indonesia.
Sejauh ini, berbagai film animasi karya anak bangsa juga sudah ditayangkan di sejumlah stasiun televisi Indonesia, seperti film “Keluarga Somat” dan “Petok Si Ayam Kampung” di Indosiar, “Si Entong” dan “Adit & Sopo Jarwo” di MNC TV, serta “Kiko” di RCTI. Bahkan, banyak juga yang telah mendapatkan penghargaan internasional, seperti film “Tatsumi”, “Battle of Surabaya”, “the Escape”, dan belum lagi film animasi yang diunggah di Youtube dan saat ini sedang terkenal, yaitu “Lakon Pada Suatu Ketika” (Transformer versi Indonesia).
“Permintaan produk animasi di dalam negeri sangatlah besar. Tidak hanya di dalam negeri, permintaan produk animasi di pasar luar negeri bahkan jauh lebih besar dengan nilai keuntungan yang sangat menjanjikan,” lanjut Nus.
Selain itu, Nus juga menambahkan bahwa kekayaan alam dan budaya yang luar biasa di Indonesia dapat menjadi inspirasi kreatif dalam menciptakan karya animasi karena memberikan keunikan yang membedakannya dengan produk animasi negara lain. Selain itu, pertumbuhan jumlah animator yang berkualitas, bertambahnya jumlah studio animasi, dan berkembangnya komunitas-komunitas animasi di Indonesia saat ini menunjukan sumber daya kreatif animasi di Indonesia sudah mulai berkembang mewarnai industri kreatif Indonesia.














