Ke depan, Hasanuddin menilai kelas jeep Maung bisa dikembangkan menjadi angkutan sedang dengan sedikit modifikasi.
“Potensinya besar, dan kita patut bangga serta berdoa agar program ini berhasil,” tuturnya.
Hasanuddin juga menilai, peluang kolaborasi dengan pihak swasta, baik dalam maupun luar negeri, tetap harus terbuka untuk memperkuat kualitas dan daya saing produk.
“Produk berteknologi tinggi memang sulit dikerjakan sendiri. Bahkan pesawat Boeing pun tidak sepenuhnya dibuat sendiri. Jadi, kolaborasi dengan swasta dalam negeri maupun asing sangat mungkin dilakukan, selama tujuannya memperkuat industri nasional,” terang Hasanuddin.
Sementara terkait pembiayaan, anggota Komisi DPR yang membidangi urusan pertahanan itu menjelaskan bahwa kendaraan untuk kebutuhan militer akan dibiayai melalui anggaran pertahanan.
Sedangkan untuk versi sipil, kata Hasanuddin, perlu melibatkan pihak swasta agar tidak membebani keuangan negara.
“Untuk kendaraan militer, biayanya berasal dari anggaran pertahanan. Sementara versi sipil sebaiknya melibatkan pihak swasta agar proses produksi dan penjualannya bisa menjangkau pasar lebih luas,” terangnya.
Hasanuddin berharap, rencana Presiden Prabowo menjadikan mobil Maung sebagai mobil nasional berjalan lancar. I















