
Lebih jauh Liya-sapaan akrabnya, PPEKRAF bisa dikatakan komunitas yang menjembatani kreativitas dengan kewirausahaan, membantu mengubah ide menjadi nilai ekonomi melalui jejaring, workshop, dan pameran. “Sekaligus wadah bagi perempuan tangguh dan anak-anak muda kreatif untuk membangun sinergi dengan semua kekuatan,” terang Kandidat Doktor dari Universitas Negeri Jakarta.
PPEKRAF, kata Liya, bertindak sebagai ruang kolaborasi di mana bakat-bakat terpendam dapat disalurkan, diberdayakan, dan ditingkatkan menjadi karya bernilai. “Produk seni, digital, budaya dan hasil kreativitas menjadi tempat yang aman bagi perempuan dan anak-anak untuk mengekspresikan diri dan menyalurkan bakat,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor mengapresiasi program kerja PPEKRAF yang telah berjalan selama satu tahun. Bahkan banyak mendidik dan melatih SDM perempuan yang terampil, serta menghasilkan produk-produk berkualitas, mulai dari fashion, perhiasan, hingga kerajinan tangan. “Jadi PPEKRAF bisa berkolaborasi dengan Kemenaker dan BPJS Ketenagakerjaan, sehingga mereka ikut terlindungi kesejahteraannya,” terangnya.
Lebih jauh Afriansyah Noor mengajak PPEKRAF bisa memanfaatkan adanya Balai Latihan Kerja (BLK) untuk mengasah kemampuan. Apalagi Kemenaker memiliki program salah satunya penciptaan SDM melalui komunitas atau dikenal BLK komunitas. “Kemenaker sudah membangun sebanyak 4282 BLK Komunitas di seluruh Indonesia sejak 2017. Kita berharap ada sinergi dengan PPEKRAF ke depan,” imbuhnya.















