JAKARTA-Presiden Joko Widodo mengakui, jika dikalkulasikan dengan apapun, proyek infrastruktur seperti transportasi massal atau Mass Rapit Transport (MRT) pasti tidak akan untung. Namun demikian, benefitnya sangat besar untuk negara dan masyarakat. “Oleh sebab itu, saat saya menjadi gubernur, beberapa kali pertemuan saya putuskan untuk langsung dikerjakan. Kenapa seperti itu? Dengan pertemuan berapa kalipun angkanya akan seperti itu terus, nggak akan berubah. Ganti berapa gubernur pun angkanya tidak akan berubah, karena memang yang namanya transportasi massal itu pasti tidak akan mendatangkan keuntungan,” kata Presiden Jokowi saat memmberikan sambutan pada peresmian pengoperasian mesin bor bawah tanah pertama yang bernama Antareja dalam proyek MRT Jakarta, di Patung Pemuda Membangun, Senayan, Jakarta, Senin (21/9).
Menurut Presiden, hitung-hitungannya hanya satu, subsidinya berapa? Ketemu subsidinya sekian. Kemudian uang subsidi didapat dari mana? Dari mana, dari penerapan ERP (Electronic Road Pricing). “Sudah ketemu ya sudah putuskan. Ini keputusan politik,” ungkapnya.
Karena itu, kata Presiden Jokowi, pada tanggal 10 Oktober 2013, diputuskan jalan meskipun ada yang demo. Presiden bersyukur karena sekarang, bisa dilihat proses pengerjaannya sangat bagus. Padahal dulu semua orang demo, takut nanti ini dikerjakan pasti akan ada kemacetan di mana-mana, ternyata dengan manajemen yang baik, dengan manajemen traffic yang baik, tidak ada apa-apa. “Saya harus mengatakan apa adanya, manajemen yang dilakukan oleh yang mengerjakan sangat bagus sekali. Jepang. Kita harus bicara apa adanya, sangat bagus,” tutur Jokowi.













