Khusus tentang Joko Widodo, Andi menerangkan hasil analitik media sosial TPN menunjukkan bahwa presiden cenderung di wilayah sentimen negatif, terutama sejak mengomentari debat capres bertema pertahanan.
Dalam sebulan terakhir, sentimen negatif kepada Joko Widodo ada di angka -62 persen dan tujuh hari terakhir bahkan menjadi -93 persen.
“Khusus hari ini, sentimen negatif pada Joko Widodo di ‘X’ atau Twitter terkait pernyataan di Halim kemarin menunjukkan minus 96 persen. Netizen menginginkan netralitas presiden dan tidak ingin Joko Widodo memiliki keberpihakan didasari konflik kepentingan karena anaknya menjadi cawapres dan ketua umum partai, sementara identitas partai Joko Widodo belum berubah,” urai Andi.
Andi menambahkan, suara-suara lain di media sosial menginginkan Joko Widodo fokus menyelesaikan masa jabatan keduanya sampai 20 Oktober 2024, terutama karena banyak persoalan dalam negeri maupun global yang perlu perhatian secara serius.
“Dari krisis ekonomi di Hong Kong, konflik Timur Tengah, sampai harga nikel yang terus turun memerlukan fokus presiden untuk dikerjakan, daripada ‘cawe-cawe’ urusan pemilu,” kata Andi.
Terkait wacana pertemuan Megawati dan Joko Widodo, Andi mengungkapkan pertemuan itu pasti terjadi setelah Ganjar-Mahfud menang pilpres.













