*)Emrus Sihombing
Pro-Kontra #2019gantipresiden, belum ada tanda-tanda berhenti. Bahkan ada kecenderungan semakin hangat menjelang kampanye Pilpres 2019. Merujuk pada perdebatan pro dan kontra tersebut, saya berpendapat, wacana publik tersebut lebih tepat disebut sebagai pepesan kosong, karena sangat mengabaikan materi perdebatan yang substansial, seperti perdebatan adu ide, adu gagasan dan adu program kebangsaan untuk kesejateraan rakyat Indonesia.
Saya mengamati, perdebatan di ruang publik, termasuk perdebatan di suatu program acara di suatu stasiun televisi swasta pekan lalu, misalnya, para narasumber berlatarbelakang dari partai politik serta menduduki jabatan publik dan ada peserta yang seharusnya menyandang sebutan dewan yang terhormat, telah menunjukkan perdebatan sebagai tontonan yang sangat tidak bermutu. Karena itu, perdebatan dengan menggunakan tanda pagar (tagar) itu, dari aspek komunikasi politik hanya bertujuan memanipulasi persepsi publik.
Bahkan, saya melihat diskusi publik pro dan kontra tersebut sudah mulai masuk babak baru, yaitu saling “meyerang”. Pilihan diski pada pesan komunikasi politik yang mereka lontarkan pun sudah sangat menyedihkan. Perilaku komunikasi politik mereka semakin menjaga jarak dari komunikasi peradaban. Mereka tampaknya sudah tidak mengedepankan intelektualitas matang. Wacana publik semacam ini saya sebut sebagai diskusi jalanan. Jika terus dibiarkan, sangat berpotensi menimbulkan polarisasi pro-kontra di tengah masyarakat. Gesekan sosial di tingkat akar rumput berpotensi terjadi.















