Melihat realitas tersebut, seolah mengingatkan kita pada tesis yang dikemukakan oleh Guru Bangsa kita, Gus Dur. Menurutnya, mereka tak ubahnya seperti taman kanak-kanak. Perilaku komunikasi politik mereka sangat menyedihkan dan bahkan memalukan. Padahal, perdebatan di ruang publik sejatinya merupakan tontonan yang bisa menjadi tuntunan bagi rakyat Indonesia. Jika sudah menjadi tuntunan, maka diskusi publik sangat berguna bagi kesejahteraan rakyat, kebangsaan dan sekaligus merawat kedewasaan demokrasi dalam rumah NKRI.
Karena itu menurut saya, Pro-Kontra #2019gantipresiden multak harus dihentikan. Lebih cepat lebih baik. Atau move on, dari perdebatan pepesan kosong berubah ke perdebatan program, koreksi dan solusi sehingga menjadi produktif. Untuk itu bagi yang pro (kelompok “penantang”), sejatinya melakukan penggalian data dan fakta, kajian mendalam, analisis konprihenship dan menyajikan dalam narasi yang sistematis tentang kelemahan pembangunan yang dilakukan oleh petahana.
Sebab, tidak ada rezim pemerintahan yang sempurna. Pasti ada sisi kelemahan. Kurs rupiah yang masih melemah, misalnya, yang pro harus mampu menguraikan berdasarkan fakta dan data, mengapa rupiah kita masih tetap lemah terhadap Dollar AS. Tentu, yang tidak kalah pentingnya, menawarkan solusi yang bernas mengatasi ambruknya nilai rupiah tersebut.















