Kalau itu program, yang pro sejatinya menawarkan program yang melampaui program dan kinerja petahana. Misalnya, petahana mendengungkan pelayanan publik “satu atap”. Yang pro harus menyajikan program pelayanan publik dan melampaui kinerja petahana dengan menawarkan pelayanan publik “jemput bola” dan kinerja yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat secara signifikan.
Bagi yang kontra (kelompok petahana), menyajikan keberhasilan pembangunan pada semua sektor yang ditangani disertai laporan keuangan yang transparansi dari setiap proyek pembangunan. Kemudian menguraikan pada bagian mana yang tidak atau belum tercapai serta mengemukakan kendalanya. Selain itu, yang tak kalah pentingnya menawarkan program yang terukur dan realistis, bila kelak terpilih pada pemerintahan periode kedua berikutnya.
Dengan demikian, wacana publik bisa menjadi pegangan bagi rakyat Indonesia menentukan pilihan terhadap salah satu paslon Pilpres 2019 untuk menjadi presiden dan wakil presiden periode 2019 – 2024 mendatang. Mari kita berwacana gagasan, ide dan program yang terukur. Hilangkan perdebatan jalanan. Kedepankan komunikasi beradab. ***
*) Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner dan Dosen UPH















