Pameran yang diselenggarakan selama empat hari ini diikuti sebanya k53 IKM binaan dari Dinas Perindagkop dan Dekranasda Kabupaten/Kota se-Sumatera dan Kalimantan. Produk unggulan yang ditampilkan antara lain tenun songket, bordir, sulaman, kerajinan perak, kerajinan kayu serta produk pangan seperti keripik balado dan rendang, aneka pangan dari umbi-umbian, kacang-kacangan, ikan olahan, dan lain-lain. “Saya meyakini, hasil semuanya itu akan dapat berkontribusi sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan ataupun pedesaan yang sanggup menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat perajin,” jelasnya.
Menururnya, sektor industri pengolahan non migas mulai bergeser ke luar Pulau Jawa, yaitu dari 24,63% pada tahun 2008 menjadi 27,22% tahun 2013. Kontribusi wilayah Sumatera dan Kalimantan terhadap nilai tambah sektor industri non-migas nasional relatif cukup besar, yaitu mencapai 23,90%. Namun demikian, kontribusi tersebut lebih banyak diberikan oleh Sumatera sebesar 20,63%, sedangkan Kalimantan memberikan kontribusi sekitar 3,27%. Oleh karena itu, potensi pengembangan industri khusus di wilayah Kalimantan masih sangat besar mengingat banyak sumber daya industri yang masih bisa dimanfaatkan secara optimal.













