“Tidak ada kehilangan emas, namun selama masa perbaikan masih berjalan, peristiwa ini dapat berpotensi pada tertundanya produksi dan arus kas dari tambang, terkait yang telah diproyeksikan sebelumnya,” ujar Adi dalam keterangan resmi MDKA.
Dia menyebutkan, MDKA memiliki polis asuransi komprehensif yang mencakup material damage dan business interruption.
“Peristiwa ini tidak berdampak pada rencana pengeboran dan pre-studi kelayakan di Proyek Tembaga Tujuh Bukit,” jelas Adi.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kamis (10/9), MDKA memperkirakan bahwa pra-studi kelayakan Proyek Tembaga Tujuh Bukit akan rampung pada tahun depan, sehingga perseroan berharap bisa merealisasikan rencana produksi tembaga hingga 90 ribu ton dan emas seberat 300 ribu ons.
Pada rencana awal MDKA, Proyek Tembaga Tujuh Bukit akan memproduksi sekitar 70 ribu-90 ribu ton tembaga dan sekitar 200 ribu-300 ribu ons emas selama lebih dari 20 tahun.
Manajemen MDKA menyebutkan, proyek tersebut bisa diperpanjang selama beberapa dekade. Perseroan mengaku, terowongan bawah tanah sepanjang 1,9 kilometer telah berhasil diselesaikan pada Juni 2020 yang nantinya akan digunakan untuk melakukan pengeboran bijih. “Pra-studi kelayakan akan selesai pada 2021”.













