Namun, ia memberikan peringatan keras terkait kondisi saat ini.
“Dalam kaitan pasar modal Indonesia terutama setelah momen MSCI, mengisyaratkan bahwa pasar modal kita sakit. Dan kemudian presiden Prabowo memberikan hukuman kepada otoritas pasar modal yang tidak sensitif,” tegasnya.
Dia mengibaratkan pasar modal seperti “kerang hijau” yang menyerap polusi; jika pasar modal bergejolak, itu adalah sinyal bahwa ekosistem ekonomi sedang tidak sehat, terutama jika pengelolaan APBN nampak tidak kredibel sehingga membuat pasar cenderung lari.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memaparkan bahwa rilis MSCI muncul di saat yang kritis, di mana portofolio investasi Indonesia mencatat angka negatif sebesar 14 miliar USD pada periode 2025 hingga kuartal III-2026, sebuah fenomena yang jarang terjadi. Kondisi ini menyebabkan dana asing ragu untuk masuk, sementara arus keluar modal domestik (outflow) justru semakin meningkat.
“Keriuhan di pasar modal sebetulnya hanya puncak gunung es dari soalan yang lebih besar di bawahnya. Ketika sektor pasar modal bermasalah, maka hampir bisa dipastikan bahwa sektor lain lebih bermasalah,” jelas Wijayanto.
Ia juga menyoroti penurunan outlook dari Moody’s pada 5 Februari lalu akibat adanya sovereign selling.












