Indonesia, tuturnya, akan sangat diuntungkan apabila program yang diinisiasi Pertamina dan terbukti sangat positif ini dapat pula dilaksanakan pada kendaraan sejenis oleh perusahaan-perusahaan. Sejauh ini, katanya, Pertamina telah melaksanakan program pilot project penggunaan LNG sebagai bahan bakar alat berat dan angkutan pertambangan bekerjasama dengan Indominco Mandiri dan Berau Coal.
Apabila inisiatif Pertamina ini diterapkan pada kendaraan-kendaraan berat lainnya, maka dampaknya akan sangat positif dalam mengurangi ketergantungan Indonesia akan impor Solar. Pertamina memproyeksikan penggunaan LNG pada sektor transportasi dan alat berat bisa mencapai 0,4 juta ton per tahun pada 2015 dan mencapai 1,3 juta ton per tahun pada 2019 yang digunakan oleh kendaraan berat tambang, perkebunan dan bus jarak jauh. Jumlah tersebut tentunya akan meningkat jika angkutan kereta api dan juga kapal laut juga menggunakan LNG. Dengan jumlah penggunaan LNG tersebut maka volume BBM jenis diesel yang dapat dikurangi bisa mencapai 0,9 juta kiloliter pada 2015 dan sekitar 3 juta kiloliter pada 2019.
Penggunaan LNG untuk bahan bakar moda transportasi memiliki beberapa keunggulan, selain lebih efisien juga ramah lingkungan karena emisi gas buangnya lebih kecil dibandingkan dengan Solar. Terlebih, tingkat keamanan penggunaan LNG juga sangat terjamin karena disimpan dalam tekanan normal. (ALFONS)














