JAKARTA-Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendesa PDTT) Marwan Jafar menggalakkan program Usaha Bersama Komunitas (UBK). Program ini akan mendorong adanya nilai tambah ekonomi masyarakat desa, sekaligus mengubah prilaku konsumtif menjadi ekonomi kreatif.
Menurutnya, mengembangkan ekonomi kreatif menjadi bagian penting dalam mewujudkan desa-desa mandiri di Indonesia. Apalagi selama ini, masyarakat telah dibanjiri aneka produk kemasan instan sebagai kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Produk berupa makanan instan, kebutuhan toiletries (sabun, deterjen, shampoo, pasta gigi), bahkan bumbu-bumbu dapur harus dibeli masyarakat melalui suplay dari konglomerasi pabrik raksasa. “Masyarakat juga dijejali dengan iklan produk yang pada akhirnya membentuk prilaku konsumtif dibanding menjadi manusia yang kreatif,” terang Menteri Marwan, di Jakarta, Kamis (11/2).
Kondisi ini jelasnya sedikit demi sedikit harus dikurangi. Salah satunya dengan menjalankan program UBK yang digalakkan Kementeri Desa ini. “Melalui UBK ini, kita dorong masyarakat desa untuk membuat produk yang dikemas menarik dengan branding kebanggan desa yang dapat bersaing dipasaran,” ujarnya.
Program UBK sendiri menjadi salah satu program unggulan Kementerian Desa yang sudah dijalankan sejak 2015. Hingga saat ini sudah ada 100 desa yang membentuk UBK, meliputi 36 kabupaten, dan 19 provinsi. “UBK ini sudah membuat 22 jenis produk kebutuhan sehari-hari dan sudah ada 108 Brand produk yang menjadi kebanggan desa masing-masing,” imbuhnya.














