JAKARTA – Organisasi lingkungan internasional dan nasional terus mendesak agar perusahaan elektronik yang menggunakan timah di Pulau Bangka-Belitung ikut bertanggung jawab melakukan pemulihan dan tidak membeli timah yang menyebabkan daratan dan laut pulau tersebut kian rusak.
Sejauh ini, perusahaan elektronik seperti Phillips, Samsung dan Apple telah menyatakan komitmen mereka akan membeli timah yang tidak berkonflik.
Namun perusahaan elektronik Microsoft menolak melakukan hal yang sama.
Hal ini membuat aktivis lingkungan di Belanda melakukan protes di kantor perusahaan elektronik dunia tersebut tersebut.
Mereka mengecam Microsoft tidak peduli atas kehancuran lingkungan di Bangka, dan kematian pekerja tambang timah akibat kecelakaan kerja rata-rata satu orang meninggal dalam satu minggu, serta keterlibatan anak-anak dalam kegiatan tambang timah.
Kepala Unit Kajian WALHI, Pius Ginting, menyatakan kegiatan penambangan di Bangka Belitung adalah sebuah kegiatan merugikan secara ekologi, sosial.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, Bangka Barat mengalami kerugian sebesar Rp 336 trilyun dan Belitung Timur mengalami kerugian sebesar Rp. 61 trilyun akibat kehadiran tambang timah di P. Bangka dalam rentang waktu 2007-2012.













