Jon M. Gibbs menambahkan, prioritas utama MCL adalah menyelesaikan proyek secara aman dan handal. Pihaknya berkomitmen untuk terus mencapai kemajuan dalam pelaksanaan setiap kegiatan EPC dan pengeboran agar selesai sesuai target produksi puncak lapangan ini pada tahun 2015.
MCL juga mendukung langkah SKK Migas untuk peningkatan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Tidak hanya lima kontrak EPC dipimpin perusahaan Indonesia. Terdapat 450 perusahaan sub kontraktor nasional dan lokal yang dilibatkan, yang 85 persen diantaranya merupakan perusahaan lokal dari Bojonegoro dan Tuban. Tidak hanya itu, terdapat 9.100 pekerja Indonesia yang 60 persen diantaranya adalah pekerja lokal yang berasal dari Bojonegoro dan Tuban. ”Lapangan Banyu Urip adalah proyek migas kelas dunia yang saat ini tengah dibangun bangsa Indonesia,” kata Jon.
Sebagai informasi, cadangan migas di Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu ditemukan pada 2001. Kontrak kerja sama Blok Cepu ditandatangani pada 17 September 2005 dengan MCL sebagai operator. MCL, anak perusahaan dari Exxon Mobil Corporation, memegang 45 persen saham partisipasi, bersama Pertamina EP Cepu yang memegang 45 persen saham dan Badan Kerja Sama Blok Cepu (BKS) dengan 10 persen saham. Rencana pengembangan lapangan disetujui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada 15 Juli 2006. Cadangan minyak di Lapangan Banyu Urip diperkirakan sebesar 445 juta barel.














