Peningkatan investasi ini yang menjadi salah satu penyebab tingginya impor pada awal 2018 karena adanya impor bahan baku maupun bahan modal yang dibutuhkan untuk ekspansi usaha dari sektor industri pengolahan besar.
Pertumbuhan impor yang tinggi juga diproyeksikan pemerintah masih terjadi di 2019 yaitu pada kisaran 6,2 persen-7,6 persen.
Untuk mesin pertumbuhan ekonomi lainnya, Sri Mulyani memproyeksikan pertumbuhan ekspor pada kisaran 6 persen-7,2 persen sebagai antisipasi dari kebijakan proteksionisme perdagangan AS yang juga berpotensi menyebabkan terjadinya perang dagang.
“Perkembangan trade policy oleh AS yang sangat proteksionis bisa menimbulkan dampak kepada negara-negara partner dagang utamanya. Spillover-nya kepada seluruh perdagangan dunia juga akan terjadi dan kita perkirakan akan mulai terasa pada kuartal ketiga dan semester kedua tahun ini,” katanya.
Sedangkan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada 2019 diharapkan bisa mencapai kisaran 5,1 persen-5,2 persen melalui dukungan perbaikan pendapatan, tingkat inflasi yang rendah serta penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat kurang mampu dengan tepat waktu dan tepat sasaran.
Dengan perkiraan dari seluruh komponen penyumbang ekonomi ini, maka pertumbuhan ekonomi pada 2019 diproyeksikan mencapai kisaran 5,4 persen-5,8 persen.













