JAKARTA-Masyarakat harus berani mendorong perubahan tradisi politik di Indonesia. Saat ini banyak lahir politisi yang memiliki ideologi. Sehingga DPR lemah dalam memproduksi legislasi. “Tradisi politik ini yang harus dirubah karena akan melahirkan politisi tanpa ideologi dan DPR selamanya akan menjadi ‘pasar politik’,” kata pengamat politik Boni Hargens dalam diskusi “Politisi Loncat Pagar, Legislasi Kedodoran” bersama Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung dan Wakil Ketua MPR RI Hajrijanto Y. Thohari di Gedung DPR RI Jakarta, Kamis (21/2).
Menurut Dosen FISIP UI ini, saat ini proses demokrasi yang berjalan hanya sekadar formalisi. Bukan substansi. Sehingga justru kerumitan yang terjadi. “Demokrasi hanya formalitas, karena pemikiran tak berubah sehingga terjadi kebuntuan demokrasi yang sangat rumit,” tambahanya.
Karena itu, sambung Boni lagi, demokrasi harus dikembalikan kepada kekuatan sipil dengan komitmen terhadap nurani, nilai, dan moralitas. “Tak boleh dirampas oleh kekuatan kapitalis transaksional. Kalau tidak, maka demokrasi hanya prosedural dan tanpa ruh,” imbuhnya
Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung mengakui wajah DPR RI di 2014 tak akan berubah. Apalagi anggota DPR RI sekarang ini maju kembali sebagai caleg 2014, maka sulit berharap ada perubahan substantif dan berkualitas dalam kinerja DPR mendatang. “Rekruitmen kader parpol tak jalan, maka motivasi menjadi anggota DPR RI terdorong untuk kekuasaan politik, kepentingan ekonomi, dan ideology,” katanya.














