Oleh sebab itu sistemnya lanjut Pramono, harus dirubah. Yaitu, gabungan proporsional terbuka dan tertutup. Kalau hanya proporsional terbuka, maka yang menang adalah figur populer seperti artis dan pengusaha, sedangkan aktivis yang idealis juga akademisi kalah popularitas. “Sistemnya harus diperbaiki, agar partai bisa menempatkan orang baik bisa masuk ke DPR RI. Selama sistem pemilu tak diperbaiki, maka tak bisa berharap ke DPR mendatang. Jadi, mau loncat pagar atau tidak, DPR tetap tak akan berprestasi,” tambah Pramono.
Hajrijanto mengakui anggota DPR RI saat ini tak punya etos parlementaria yang cukup, sehingga menjadi lembaga DPR RI ini hanya sebagai tempat kegiatan politik. “Anggota DPR tak banyak yang memahami konstitusi, sehingga banyak produk UU yang digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan dikabulkan. Itu menunjukkan kalau SDM DPR rendah. Jadi, DPR ini dijadikan tempat transit untuk karir politik yang lain. Karena itu kutu loncat itu biasa, karena memang tak berideologi,” tutur politisi Golkar ini.
Salah satu solusinya menurut Hajrijanto, maka pertama, DPR harus menjadi lembaga elitis dengan mengurangi jumlah anggotanya menjadi 300 orang dari 560 orang, dengan memperbanyak tenaga ahli (TA). Parpol harus diberi pesaing lembaga independen, dan mentalitas di luar pagar harus diakhiri. “Selama orang-orang yang baik dan cerdas ada di luar DPR, maka selama itu pula mereka ini akan mengkritik dan mencaci-maki DPR senenaknya. Kalau mentalitas itu terus di luar pagar, maka selamamnya DPR tak akan pernah baik, dan DPR hanya menjadi tempat untuk pencarian nafkah,” tegas Hajrijanto lagi. **can














