“Soal keterpilihan kan ada banyak faktor. Misalnya apa yang dibayangkan publik atas kepemimpinannya. Kalau kepemimpinan bagus dirasakan dan kalau dengan pertimbangan rasional dipandang bermanfaat, ya itu bisa saja mendorong publik untuk memilih,” kata Nyarwi.
Nyarwi juga mengungkapkan adanya pertimbangan emosional, selain pertimbangan rasional yang digunakan publik untuk menjatuhkan pilihan pada sosok tertentu.
“Misalnya masyarakat merasa dekat dengan Airlangga. Senang atau mungkin ingin Pak Airlangga jadi capres. Itu saya kira faktor keterkaitan emosional itu juga menentukan. Kalau itu bagus ya peluangnya makin besar,” tegasnya.
Aspek yang lain yang juga berpengaruh adalah kompetensi. Nyarwi menjelaskan publik akan memberikan penilaian pada kepemimpinan seorang tokoh menduduki jabatan publik.
“Misalnya seberapa Pak Airlangga itu bisa menjadi pemimpin masa depan yang bisa mengatasi persoalan,” tambahnya.
Penilaian itu terkait dengan kinerja, capaian, bersih dari korupsi, dan keberhasilan. Hal itu yang turut membangun kepercayaan publik terhadap seorang calon pemimpin.
“Kalau integritas itu dikaitkan dengan kinerjanya, dikaitkan dengan capaiannya, transparansi, tidak ada korupsi dan lain-lain. Artinya itu trust masyarakat terbangun untuk Pak Airlangga. Peluang itu saya kira semakin besar,” jelas Nyarwi.














