TOKYO-Di sela-sela menghadiri pertemuan 12th High Level Experts and Leaders Panel (HELP) on Water and Disasters Meeting di Tokyo, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono ke Amagase Dam Re-Development Project Tunnel di Kota Uji, Prefektur Kyoto dan Bendungan Yamaguchi di Prefektur Saitama, Jepang. Di kedua lokasi tersebut, Menteri Basuki mendapatkan penjelasan mengenai teknologi Dam Upgrading yang tengah dilakukan terhadap 21 bendungan di Jepang.
Bendungan-bendungan di Jepang banyak yang sudah berusia tua dan mengalami penurunan fungsi. Sementara untuk pembangunan bendungan baru, ketersediaan lahan sangat terbatas dan tidak mudah pembebasannya. Oleh karenanya Dam Upgrading menjadi pilihan untuk memperpanjang fungsi bendungan. “Dari pengalaman Jepang melakukan Dam Upgrading, kita dapat belajar bagaimana mengoptimalkan fungsi bendungan yang sudah ada. Melakukan Dam Upgrading memiliki kelebihan dibandingkan membangun bendungan baru yakni tidak diperlukan pembebasan lahan, lebih ramah lingkungan dan waktu lebih cepat,” kata Menteri Basuki.
Bendungan serba guna Amagase dibangun dan mulai beroperasi pada tahun 1964 di Sungai Uji anak sungai dari Sungai Yodo yang mengalir melintas Prefecture Kyoto dan Osaka, dan berada di hilir outlet Danau Biwa. Bendungan berfungsi sebagai pengendali banjir, pembangkit listrik dan pemasok air baku air minum kota Kyoto dan Osaka. Amagase Dam Re-Development Project Tunnel dilakukan Pemerintah Jepang dengan tujuan agar pertambahan debit banjir yang keluar dari Danau Biwa dapat dialirkan dengan aman, meningkatkan kapasitas tampungan efektif Bendungan Amagase guna memenuhi tambahan kebutuhan air baku bagi kota Kyoto sebesar 0,6 m3/detik, menjaga output daya listrik PLTA tetap tinggi di musim panas dan mengendalikan banjir di kawasan Danau Biwa.














