“Kementerian PUPR bersama BUMN Karya membangun huntara dilengkapi dapur umum, kamar mandi dan WC umum. Untuk penentuan penghuni huntara dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Masa transisi dari tenda ke huntara merupakan tantangan karena penyediaan air dilakukan untuk memenuhi kebutuhan huntara dan warga yang masih ditenda,” jelas Arie. Huntara yang dibangun berbentuk rumah besar terdiri dari 12 bilik yang dihuni satu keluarga.
Menurut Arie, untuk memenuhi kebutuhan air bersih disetiap Huntara dilakukan pemasangan sumur bor dan solar cell di beberapa dibeberapa titik, yakni di Petobo Utara dengan kedalaman 96 meter,m berkapasitas 6 liter/detik. Di Petobo Selatan, kedalaman 93 meter, berkapasitas 10 liter/detik. Lalu di Mpanu dengan kedalaman 80 meter berkapasitas 9 liter/detik.
Selanjutnya untuk pembangunan hunian tetap (huntap), Gubernur Sulteng telah menandatangani Surat Keputusan mengenai penetapan lokasinya yakni di Kota Palu seluas 360,93 Ha, meliputi di Kelurahan Talise seluas 481,63 Ha, Kelurahan Duyu seluas 41,65 Ha, dan Kelurahan Pombewe seluas 362 Ha.
Pembangunan huntap pada tahap awal dilakukan sebanyak 21 ribu unit menggunakan teknologi rumah tahan gempa yakni Risha dengan biaya pembangunan Rp 50 juta per unit.














