Menurutnya, konflik horizontal antar para pendukung kedua Capres hanya akan terjadi jika Bangsa Indonesia memiliki mindset seperti itu dan menghendaki negaranya hancur.
Kekacauan sangat bisa terjadi ketika rakyat, KPU, Bawaslu, TNI dan Polri juga memiliki mindset bahwa akan terjadi kekacauan dan konflik horizontal dalam pemilu pada Juli nanti.
“Kita semua tidak menghendaki, bangsa dan negara ini terpecah-pecah, tercabik-cabik dan porak poranda karena pilpres 2014. Jika kita semua termasuk para pendukung, calon pemilih, penyelenggara dan pengawas pemilu, aparat dan pemerintah mempunyai mindset seperti itu, artinya kita semua menginginkan bangsa dan negara ini hancur. Yang menjadi pertanyaan, pihak mana yang menginginkan negara dan bangsa ini hancur? Kalau ada, pihak mana? Internal atau eksternal ?,” tegasnya.
Dalam penjelasan lebih lanjutnya, Putut berkeyakinan bahwa pilpres pada Juli 2014 adalah “perang” para ksatria yang memegang teguh sifat-sifatnya. Dan jika karena sesuatu hal, “perang” tanding ini berubah “perang tanding” yang berubah menjadi kekacauan atau konflik horisontal, itu artinya ada fungsi aparat keamanan yang tidak berjalan yakni intelijen.
Oleh karena itu, kasus intoleransi di Jogya, tidak bisa serta merta dikaitkan dengan pilpres karena hanya melihat dari permukaannya saja.













