Karena, demikian dijelaskan lebih lanjut, sebelum kejadian pekan lalu, ada beberapa aksi kekerasan intoleransi yang terjadi di Jogyakarta bahkan jauh sebelum pilihan anggota legislatif pada April lalu.
“Saya tidak habis pikir dan miris juga ketika mendengar, sebuah keluarga harus bermusuhan dan bersikap saling menyerang. Jadi ini sebenarnya, masalah mindset. Kalau seluruh pemimpin bangsa yang terlibat dalam pilpres dan juga para pendukung kedua Capres mengatakan pasti terjadi chaos, maka apa yang ditakutkan akan terwujud. Dan sudah bisa dipastikan, kalau terjadi konflik horizontal, semua pihak akan menyesal kemudian hari karena Indonesia sudah pasti terpecah belah. Antisipasi yang harus dilakukan adalah optimalkan peran intelijen dan sekaligus para pendukung, para aparat keamanan dan juga penyelenggara atau pengawas pemilu menghilangkan pikiran negatifnya, ” ujarnya.
Kondisi dan situasi kampanye memang terasa panas karena yang terjadi adalah kedua belah pihak secara tidak sengaja saling membuka dan memperebutkan “Kotak Pandora” yang berisi “kejahatan” para pemimpin dan tokoh bangsa pada waktu yang lalu.
Seluruh kejahatan, keburukan, sikap plin plan, aksi jilat ludah para tokoh bangsa, yang dulu tak nampak dan yang tersimpan rapi dalam “Kotak Pandora” sekarang terbuka sedikit demi sedikit dan rakyat harusnya membaca itu.













