Negara importir seperti, India, Jepang dan China sudah menyiapkan stok. Penurunan ekspor CPO Indonesia diperkirakan juga terjadi karena adanya pergeseran permintaan oleh beberapa negara pengimpor dari CPO ke produk turunan CPO ke minyak kedelai.
Khusus untuk Amerika Serikat, penurunan permintaan terjadi karena stok kedelai yang melimpah dengan harga kedelai yang tergerus.
Laporan pasokan kedelai oleh Departemen Pertanian AS mencatat pasokan kedelai pada 31 Agustus 2015 sebesar 415 juta bushel.
Jumlah itu meningkat bila dibandingkan dengan perkiraan persediaan di Juni yang sebesar 325 juta bushel.
Dari sisi harga, harga rata-rata CPO di Rotterdam pada Juni 2014 bergerak di kisaran US$ 825 – US$ 875 per metrik dengan harga rata-rata US$ 856 per metrik ton.
Harga rata-rata ini turun sekitar 4% dibandingkan dengan harga rata-rata bulan Mei US$ 895,6 per metrik ton.
Pada Juli ini harga diperkirakan masih stagnan, Ramadhan dan jelang hari raya masih tidak mampu mengerek permintaan dan harga CPO global.
Sentimen negatif masih akan terjadi dan diperkirakan karena pasokan dan produksi CPO di Malaysia melimpah sedangkan permintaan melambat.
Pergerakan harga CPO untuk seminggu ke depan akan tergantung dari hasil laporan pertumbuhan ekonomi China. China tercatat sebagai konsumen terbesar CPO kedua di dunia, sehingga bila pertumbuhan ekonomi China tercatat positif akan ada harapan permintaan CPO dari negeri tirai bambu itu.











