Namun
demikian, meski pemerintah tengah mencanangkan program revolusi
industri 4.0, industri yang masih menerapkan teknologi era teknologi
1.0-3.0 tetap berjalan secara beriringan. Artinya, pemerintah juga
berupaya menjaga keberlangsungan usahanya terutama di sektor IKM.
“Jadi,
seperti IKM kerajinan tetap didukung dan dilindungi, walaupun masih di
industri 1.0. Tidak boleh ada investor asing, termasuk juga di IKM
bidang tenun, batik, sarung dan lainnya,” tegas Airlangga.
Oleh
karena itu, melalui pelaksanaan Semarak Festival IKM 2018, Kemenperin
terus berupaya dapat meningkatkan skala ekonomi IKM nasional di era
digital. Pada ajang ini, terpilih lima startup terbaik dari 15 startup yang masuk penyaringan. Sebelumnya, mereka adalah 100 peserta yang mendapat WorkshopCloud Computing pada awal September 2018.
Lima startup
terbaik masing-masing mendapatkan hadiah sebesar Rp50 juta. Para
pemenang tersebut, yakni Neurabot, Bantuternak, PT Mitra Sejahtera
Membangun Bangsa (MSMB), Khaira Energy, dan PIGMI Mini 3D Printer.
Menperin pun memberikan apresiasi kepada mereka agar menjadi inspirasi
dan motivasi bagi para startup lainnya.
“Kalau
kami lihat, talenta yang muncul sangat luar biasa. Contohnya, ada
aplikasi di bidang agri yang bisa memonitor cuaca dan kadar air,
sehingga pemupukan dan yang lainnya bisa dilakukan lebih baik. Kami
ingin industri pupuk memanfaatkannya. Demikian pula dengan aplikasi yang
terkait smart factory. Sudah ada IoT yang dibangun sehingga teknologi digital ini bisa dimanfaatkan pengusaha nasional,” paparnya.















