JAKARTA,BERITAMONETER.COM – Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI) DKI Jakarta menyampaikan duka cita mendalam sekaligus kemarahan yang serius atas tewasnya Arianto Tawakal (14), pelajar MTsN di Kota Tual, Maluku, yang diduga menjadi korban kekerasan oknum Brimob.
Peristiwa yang terjadi di Jalan RSUD Maren, Desa Fiditan, Kecamatan Pulau Dullah Utara, Kota Tual tersebut memperlihatkan dugaan penggunaan kekuatan yang berlebihan hingga menyebabkan hilangnya nyawa seorang anak di bawah umur.
?”Bagi kami, ini tentu saja bukan sekadar pelanggaran etik individual, melainkan refleksi krisis struktural dalam tubuh Kepolisian Republik Indonesia,” ujar Ketua DPD GMNI DKI Jakarta, Deodatus Sunda Se, yang akrab disapa Bung Dendy.
“Kematian Arianto Tawakal adalah luka baru dalam catatan panjang kekerasan aparat terhadap warga sipil. Ini bukan insiden yang berdiri sendiri. Pola kekerasan yang berulang menunjukkan bahwa reformasi kepolisian belum menyentuh apa yang menjadi akar persoalan.”
Bung Dendy juga menegaskan bahwa tragedi ini harus dibaca dalam konteks kegagalan institusional yang lebih luas, termasuk belum tuntasnya berbagai peristiwa pelanggaran sebelumnya, seperti Agustus Kelabu yang hingga kini belum menghadirkan akuntabilitas menyeluruh dan keadilan yang transparan bagi publik.













