Oleh: Yohanes Kristo Tara, OFM
Habemus Papam. Kita memiliki Paus. Seorang Kardinal Jesuit asal Argentina, Jorge Mario Bergoglio terpilih menjadi Paus baru. Nama yang dipilihnya adalah Fransikus.
Semua pengamat, bahkan internal Vatikan hampir sepakat bahwa nama ini merujuk pada St. Fransiskus Asisi.
Dalam sejarah Gereja, St. Fransiskus Assisi menjadi ikon reformis yang pada zamannya melakukan restorasi dan reformasi dalam Gereja.
Dengan kekudusan dan keterlibatan langsungnya, dia menentang korupsi patriarkal, hirarkisme dan triumvirat Gereja yg bertumbuh subur pada zaman itu.
Fransiskus secara radikal berusaha mengembalikan Gereja pada kemurnian Gereja Kristus, menyegarkan kembalian kelesuan evangelisasi, bahkan mendefinisikan kembali Gereja Katolik sebagai Gereja Kaum Miskin, mengedepankan teologi pembebasan, membangun spiritualitas persaudaraan semesta yg adil dan bermartabat.
Bukan karena kecerdasan dan kejeniusannya, atau kesuksesan pribadi untuk menegakkan 3 ketutamaan Kristiani (iman, pengharapan dan kasih), tetapi krn kesederhanaan dan keterlibatan langsung.
Allah mengutus Fransiskus untuk mengembalikan Gereja Universal pada hakikatnya sebagai Gereja Kristus. Dalam sejarah Gereja, tidak ada Santo lain  yang diutus untuk menjalankan misi khusus merestorasi/memulihkan Gereja, kecuali Fransiskus Assisi.














