JAKARTA-Gagasan ‘’Revolusi Mental’’ yang dilempar calon presiden Jokowi perlu dikritisi semua pihak. Karena untuk mewujudkan hal ini sangat berat tantangnya. ” ‘’Jangan-jangan cuma bagian dari jargon kampanye Pilpres-nya Jokowi. Saya khawatir ini cuma retorika,” kata Direktur Eksekutif The President Center (TPC) Didied Mahaswara, Jumat, (16/05/2014).
Menurut Didied, yang dimaksud dengan revolusi lazimnya berupa perubahan ketatanegaraan, pemerintahan, atau keadaan sosial yang dilakukan dengan cara cepat dan terdapat unsur mobilisasi fisik di dalamnya. Sedangkan ‘’mental’’ berkaitan dengan bathin, tidak bersifat badaniah, menyangkut perasaan atau emosi manusia.
Lebih jauh kata Didied, Mental adalah sesuatu dalam diri manusia, tidak tumbuh, tidak berbentuk, hanya bisa dirasakan, dihayati, karena mental berhubungan dengan sikap dan watak manusia. ‘’Mungkin Jokowi mau nyindir Prabowo yang oleh umum dianggap suka emosi, karena itu emosinya harus direvolusi. Saya kira kalau membuat judul jangan bombastis, tapi malah ngawur,’’ ujar Didied agak berseloroh.
Seperti diketahui, Sabtu 10 Mei lalu di sebuah suratkabar terbitan Jakarta Jokowi menulis artikel berjudul ‘’Revolusi Mental’’, intinya berupa ajakan mengenai perlunya Revolusi Metal, sebab menurut Jokowi Reformasi tidak mengubah mental negatif bangsa ini. Tulisannya ini mendapatkan reaksi beragam, antara lain karena Jokowi tidak menjelaskan bagaimana mengimplementasikan ajakannya itu dan dari mana memulainya.











