Di tengah pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih lambat, menurut Airlangga, Indonesia mampu mengatasinya dengan mencatatkan pertumbuhan ekonomi berkisar 5,2 persen dalam lima tahun terakhir.
“Dari capaian itu, kami bisa menyediakan lapangan kerja dan mengurangi angka kemiskinan yang angkanya terendah dalam empat tahun terakhir,” tuturnya.
Bahkan, di tengah perang dagang Amerika Serikat dan China, Indonesia mengalami keuntungan darisituasi tersebut.
“Bagi dua negara itu akan melihat ke kawasan regional lain, termasuk ke Indonesia. Jadi, adainvestasi baru yang akan komit ke Indonesia, ini juga bisa dilihat sebagai stabilisasi bagi wilayah kita,”jelasnya.
Kendati demikian, Menperin berharap, AS dan China bisa lebih menjalin hubungan yang harmonis, sehingga perekonomian Indonesia ikut berjalan lebih cepat.
“Yang paling penting adalah globalisasi. Standardisasi jadi penting, kalau kita melakukan perdagangan dengan standar global,” imbuhnya.
Dalam hal ini, Indonesia telah menyiapkan melalui peta jalan Making Indonesia guna meningkatkan daya saing industri nasional di kancah global.
“Di roadmap itu sudah jelas target yang tercantum, bahwa tahun 2030, Indonesia akan menjadi 10 besar kekuatan ekonomi dunia. Kemudian, menuju 100 tahun kemerdekaan Indonesia di 2045, PwC menyampaikan Indonesia bisa menduduki peringkat ke-4 dalam perekonomian dunia,” paparnya.














