Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat menggunakan defisit perdagangan relatif terhadap impor dalam menghitung tarif resiprokal, yang menurut kami dapat mempersulit negosiasi di masa depan karena tidak jelas apa yang harus dikorbankan oleh setiap negara kepada Amerika Serikat untuk mendapatkan keringanan.
Akibatnya, tampak bahwa kerangka kerja kasar yang akan diterapkan Amerika Serikat terhadap mitra dagang lainnya yang cenderung bersikap menantang akan terlihat seperti ini: Tarif balasan diumumkan, Washington menaikkan tarifnya, negosiasi dimulai, dan akhirnya terjadi jeda. Dalam pandangan kami, kemampuan Washington dan mitra dagangnya untuk mencapai kesepakatan dibatasi oleh keinginan pemerintah untuk menghilangkan defisit perdagangan negara.
Semakin lama negosiasi berlangsung, semakin lama pula periode ketidakpastian, dan semakin besar efek lumpuh bagi konsumen, perusahaan, dan investor.
Dengan tidak adanya kerangka kerja kebijakan yang jelas, perencanaan menjadi sulit dilakukan.
Akibatnya, keputusan yang diambil akan lebih sedikit, mengurangi keputusan pembelian. Kelumpuhan keputusan ini memperparah kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dan negara-negara lain telah mengalami pelemahan pertumbuhan ekonomi, yang menyebabkan meningkatnya ketakutan akan terjadinya resesi.














