Oleh: Dr. Emrus Sihombing
Kali ini, logika Rocky Gerung (Rocky) offside. Alur pikir tidak berada pada nalar lazim digunakan untuk menyamakan atau membedakan sesuatu, termasuk keberadaan dua orang.
Lihat saja, Rocky menyarankan dengan menyamakan dua sosok yang sama sekali tidak bisa disamakan, dari berbagai aspek.
Dalam satu link berita pekan lalu Rocky menyarankan agar Firli Bahuri (Firli) mengikuti jejak Novel Baswedan (Novel) mendaftar sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Polri.
Ini jelas bahwa Rocky belum siuman dari upayanya selalu mengkultuskan Novel sehingga mengorbankan nalar logikanya sendiri.
Selain lemah alur logika dan argumentasi, saran Rocky tersebut tidak fair karena menyamakan kedua sosok yang memang tidak sebanding, sehingga sangat disayangkan.
Jauh logis dan produktif, kalau Rocky justru menyampaikan saran kepada Novel agar mengikuti jejak dan berguru kepada Firli menjadi komisioner dan kemudian Ketua KPK yang bekerja keras atas dasar perintah UU Pemberantasan Korupsi dan tidak menarget sesorang untuk diproses di KPK.
Singkatnya, Firli tidak pernah melakukan “pilih tebang” di KPK.
Ia tidak tunduk pada kekusaan apapun di republik ini dalam melakukan tugas penindakan dan pencegahan korupsi di Indonesia.













