Masih segar dalam ingatan publik, saat berlangusung semua tahapan seleksi komisioner KPK, wacana dilontarkan oleh pihak-pihak tertentu bahwa sedang terjadi pelemahan KPK.
Namun Firli tetap mengikuti dengan seksama semua tahapan seleksi hingga dinyatakan dan ditetapkan sebagai salah satu komisioner KPK.
Di bawah kepemimpinan Firli, ternyata KPK berhasil melakukan penindakan dan pencegahan dibanding dengan komisioner sebelumnya dengan kurun rentang waktu yang sama.
Menurut catatan saya, satu hal luar biasa dari sosok Firli, setelah lebih dari satu kali mengikuti tes masuk Akademi Polisi (Akpol), baru ia diterima.
Ini salah satu bukti valid bahwa Firli memiliki integritas dan kerja keras untuk mencapai posisi tertentu di republik ini.
Karena itu, tidak berlebihan, bangsa ini memerlukan sosok Firli-Firli yang lain.
Oleh karena itu, Firli dan Novel, dalam konteks perjalanan karir di luar dan di dalam KPK tidak boleh disamakan atau pun dibedakan.
Mereka berdua sosok unik satu dengan lain.
Dengan demikian, saran RG di atas dapat terbantahkan dengan sendirinya.
Penulis adalah Komunikolog Indonesia di Jakarta













