JAKARTA- PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) selama tiga bulan pertama tahun ini terpantau masih menderita rugi bersih sebesar Rp99,99 miliar atau menurun 8,4 persen dibanding Kuartal I-2022 yang mengalami rugi bersih mencapai Rp109,16 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan MPPA yang dipublikasi BEI di Jakarta, Selasa (9/5), perseroan bisa mencatatkan pertumbuhan pendapatan di Kuartal I-2023 sebesar 5,92 persen menjadi Rp1,79 triliun dari Rp1,69 triliun pada Kuartal I-2022.
Namun, beban pokok penjualan MPPA selama tiga bulan pertama tahun ini justru melonjak 8,03 persen (year-on-year) menjadi Rp1,48 triliun.
Sehingga, laba bruto di Kuartal I-2023 menjadi Rp305,27 miliar atau merosot 5,68 persen (y-o-y).
Kendati demikian, selama tiga bulan pertama tahun ini MPPA bisa menekan beban penjualan sebesar 4,24 persen (y-o-y) menjadi Rp76,95 miliar.
Selain itu, beban umum dan administrasi di Kuartal I-2023 juga tercatat menurun 0,8 persen (y-o-y) menjadi Rp324,39 miliar.
Pada pertama di 2023, MPPA mampu meraih pendapatan sewa sebesar Rp23,25 miliar atau melonjak 24,6 persen (y-o-y).
Sementara itu, pada pos pendapatan lain-lain tercatat Rp12,59 miliar atau melesat 1.622,02 persen dibanding Kuartal I-2022 yang hanya Rp731 juta.
Maka, selama tiga bulan pertama tahun ini, rugi usaha MPPA menurun 6,3 persen (y-o-y) menjadi Rp60,23 miliar.
Perbaikan kinerja keuangan juga ikut terbantu oleh penurunan biaya keuangan di Kuartal I-2023 yang sebesar 7,76 persen (y-o-y) menjadi Rp44,46 miliar.
Sehingga, jumlah rugi sebelum pajak penghasilan yang dicatatkan MPPA di Kuartal I-2023 sebesar Rp103,72 miliar atau lebih rendah dibanding rugi sebelum pajak penghasilan di Kuartal I-2022 yang mencapai Rp110,65 miliar.
Dengan adanya manfaat pajak penghasilan (neto) di Kuartal I-2023 yang sebesar Rp3,73 miliar, maka rugi periode berjalan MPPA menjadi Rp99,99 miliar atau lebih rendah dibanding Kuartal I-2022 yang sebesar Rp109,16 miliar.













