JAKARTA-Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (17/6) diperkirakan bergerak stagnan karena fokus pelaku pasar masih tertuju pada pengumuman harga bahan bakar minyak (BBM) yang berpotensi mensupport rupiah sehingga mengurangi ketidakpastian di pasar uang. “Rupiah diperdagangkan di level 9.825-9.890 per dollar Amerika Serikat (AS,” ujar Kepala Divisi Treasury BNI, Nurul Eti Nurbaeti di Jakarta, Minggu (16/6).
Menurut dia, pergerakan nilai tukar rupiah masih belum banyak berubah. Minimnya sentimen positif yang masuk ke pasar uang membuat rupiah tidak leluasa bergerak. Dari luar negeri, turunnya won dan dollar Australia karena kenaikan tajam yield obligasi AS memberi tekanan terhadap rupiah. “Disamping itu, pelaku pasar menanti FOMC meeting yang akan dilaksanakan 18 Juni mendatang sehingga pelaku pasar bersikap wait and see,” jelas dia.
Sementara itu dari dalam negeri kata dia, belum jelasnya pemberlakukan kenaikan harga BBM semakin menambah ketidakpastian. “Hal ini membuat pasar begitu hati-hati merespons kebijakan apapun dari pemerintah,” imbuh dia.
Tekanan terhadap rupiah semakin tidak terhindari karena kebutuhan dollar AS dari dalam negeri juga masih tinggi menyusul pembayaran utang swasta luar negeri pada Juli-Agustus mendatang. “Persedian dollar AS minim sementara kebutuhan tinggi, kondisi itu yang membuat dollar AS menguat di dalam negeri pada akhir-akhir ini,” tutur dia.













