Sebelumnya, pada Rabu (13/08), Trump mengancam akan memberikan “konsekuensi berat” apabila Putin tidak menyetujui perdamaian, mengingat Trump telah mengancam tarif tinggi terhadap pembeli utama minyak Rusia, yaitu India dan China.
Para analis mengatakan pembatasan yang lebih ketat terhadap ekspor energi dari Moskow dapat memperburuk kendala pasokan yang ada, terutama di Eropa, dan sebagian Asia yang masih sangat bergantung pada minyak mentah dan produk olahan Rusia.
Dari kawasan Asia, perekonomian China melambat di hampir semua sektor pada Juli 2025, yang mana aktivitas pabrik, investasi, dan penjualan ritel mengecewakan ekspektasi, dipengaruhi pengetatan Beijing terhadap perang harga serta dampak lanjutan tarif impor dari Trump.
Pada Jumat (15/08), data Biro Statistik Nasional (NBS) China menunjukkan produksi pabrik dan tambang hanya naik 5,7 persen year-on-year (yoy) atau terendah sejak November 2025 dan di bawah proyeksi, dibandingkan kenaikan 6,8 persen (yoy) pada Juni 2025.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mencatat ULN periode Juni 2025 sebesar 433,3 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp6.976,1 triliun (kurs Jisdor Rp16.109 per dolar AS per 14 Agustus 2025), atau menurun dibandingkan sebesar Rp7.100,28 triliun pada Mei 2025.












